Mungkin aku mengerti, sepenuhnya . . . Mungkin . . . Taoi sepertinya tidak Aku mengerti bahwa segalanya telah berubah. Sekarang. Semuanya? Benar semuanya. Namun mengapa aku masih merasa bahwa aku masih dalam tahapan tidak mengerti, atau tidak mau mengerti mengapa aku kecewa pada pilihan yang kita sepakati. Sepakati? Kita? Benarkah kita pernah pada tahapan sepakat? Bahkan aku berpikir benarkah itu sebuah...
Image Source : Google “ Apa kau sudah sembuh? “ “ Siapa? “ jawabku singkat “ Kamu . . . “ tambahnya “ Aku? Tapi aku tidak merasakan sakit apapun? Tubuhku baik – baik saja” “ Hatimu . . . . “ Aku gelagapan bagai diterpa angin kencang. Aku sejenak terdiam, berusaha untuk tetap tenang. Aku menatapnya kembali...
Draft : Hari telah mulai malam. Semua suara terasa diredam. Diam tanpa ada suara apapun yang mampu terekam. Dalam sunyinya malam, gelisah tak mampu lagi untuk dipendam. Jarum jam berdenting, tepat sepuluh kali terdengar di kuping. Aku terdiam dalam sudut lamunan tanpa bergeming memikirkan haruskah aku berdiri atau kembali berbaring. Tidak akan ada yang berubah meski aku mengubah posisi, tetap saja pikiranku...
Image Source : GoogleSorot lampu menerangi diriku yang berjalan di pinggir jalan sendirian. Lengkap dengan rembulan yang menemani sepinya malam melewati taman kota. Sejenak diriku menghentikan langkah, menarik nafas dan menghembuskan nafas pelan sambil menoleh pada bangku taman di bawah tiang lampu di sudut taman. Teringat kembali dulu diriku berjalan bersisihan, denganmu di taman kota ini. Lengkap dengan kemeja putih dan celana jeansmu,...
Image Source : GoogleHujan kembali mewarnai malam ini. Tidak seperti malam –malam sebelumnya yang terang dan tenang, kali ini hujan datang meski masih memberi ketenangan yang pada akhirnya kembali membawaku kembali kepada sebuah kenangan. Teringat terakhir kali aku menatap matamu dan melihat senyum mu, damailah diriku. Senyum yang tentu saja masih bisa aku lihat walau tanpa bertemu denganmu. Walau itu menyiksaku, namun sepertinya...
Image Source : GoogleKulangkahkan kakiku berjalan menyusuri lorong sempit di pinggiran kota. Sambil memegang payung yang tidak sepenuhnya melindungi tubu dari hujan. Ya, Hujan di akhir bulan, tenang namun menyisakan kenangan. Kenangan yang masih membayang bahkan setelah bertahun – tahun berusaa untuk dihilangkan. Memang benar kata orang, kenangan memang ada untuk di kenang, bukan untuk dihilangkan. Tetapi, sudah lewat bertahun - tahun bukan?...
Image Source : Google Pagi kini kembali. Sepi bukan karena merasa sendiri. Hanya saja kini tak sama lagi. Kembali menepi, meresapi, dan menggali kembali memori yang sudah lama disusun rapi sehingga kini mati terpatri. Tak akan bisa pergi tak akan bisa diulang kembali. Kamu yang dulu membuatnya tersusun rapi, kini tak ada lagi. Pergi. Dan kini, semua hanya bisa aku nikmati, sendiri. Tanpa...